Minggu, 17 Maret 2013

aku anaknya cengeng


Tau sendiri kan kalau masa kecil itu sebenarnya adalah sesuatu yang sangat sulit di ingat? Kalau bukan karena saat itu benar-benar berefek pada ingatan kita, biasanya kita nggak akan mengingatnya dengan jelas. Untuk aku sendiri, aku punya beberapa kebiasaan kecil yang nggak bisa kulupakan sampai saat ini. Sebagian besar sih kebiasaan jelek, dan terutama tentang tangis-menangis ini, aku masih inget seberapa cengengnya diriku dulu. Kenapa aku tertarik untuk menceritakan aib masa kecilku ini?

Karena kan udah lewat..
Yap! dan kalo aku ngomongin sekarang sambil inget-inget jamannya, jatuhnya jadi pingin ketawa. Kalo dulu sih nggak bakal mau ya aku   ngaku kalo cengeng, gengsi gitu..
Cih.


Jadi, dulu aku waktu kecil tuh anaknya cengeeeeeng banget. Sedikit-sedikit nangis, sedikit-sedikit histeris. Dan nangisku itu bukan yang cuma nangis biasa-biasa aja, tapi tipe nangis yang sampai guling-guling, nggak tau malu, bahkan aku inget pernah sampai di siram air satu ember sama ibukku gara-gara nggak mau diem, yang akhirnya malah jadi berujung kabur -___-. Jujur aja, nangisku itu banyak variasinya. Apa aja? Let's check it..


1. Guling-guling
Ini terjadi ketika aku nangis dalam keadaan histeris. Alasannya simpel aja sih, orang tuaku nggak mau beliin aku makanan kecil yang di jual di warung. Jadi gini, orang tuaku kan punya kebiasaan ngrumpi bareng tetangga sebelah yang tetanggaku itu pemilik warung, nah, aku tipe yang suka banget jajan dan saat-saat itu adalah saat emas untukku menarik-narik baju orang tuaku agar mereka membelikanku beberapa. Pertamanya sih, mintanya baik-baik. Kadang dituruti, tapi masalahnya adalah kalau nggak dituruti. Mulai deh geret-geret, dan mulai teriak-teriak. Akhirnya nangis. Orang tuaku malu, mereka pergi, dan aku ditinggal di depan warung. Nggak terima, aku mulai nangis tambah kenceng, jejakin kaki, teriak-teriak manggil ortuku yang semakin menjauh ke arah rumah, dan akhirnya guling-guling. Entah dimana rasa maluku saat itu. Emm.. habis itu akhirnya aku di tarik ayahku pulang, dan nggak cuma dimarahin, di rumah aku dipukulin.Hiks.

2. Ngompol di kamar mandi
Oke, ini memalukan. Beberapa pernah terjadi karena aku dimarahin ayahku, aku nggak terima, bentak-bentak, ayahku marah, alhasil aku di kurung di kamar mandi. Aku di kamar mandi dalam keadaan gelap gulita, dan aku teriak lebih histeris lagi. Akhirnya ngancem kalo bakal ngompol, well, akhirnya ngompol beneran deh.

3. Naik ke atas kasur.
Dulu aku pernah punya semacam kasur bertingkat dua, dan ayahku itu sebenernya tipe orang yang nggak tahan kalau dengerin ada anak nangis. *sekarang aku sadar senyebelin apa itu*, dan sedikit-sedikit bisa mukul pake satu helai sapu lidi, mmm... pernah pake hanger atau kemoceng, semacam itulah. Dan itu terjadi waktu aku nangisnya udah mulai hebat, lalu mengetahui aku akan di pukul, aku lari ngibrit... ke atas kasurku yang bertingkat, meringkuk di pojok, sedangkan ayahku sibuk mencari posisiku dari bawah. Ayahku nggak mungkin naik dong ya, ntar jebol. Selesai, aku sesenggukan dan tertidur di atas kasur.

4. Di siram air satu ember
Ternyata nggak cuma ayahku yang suka main tangan kalo denger anaknya nangis, tapi ibuku juga. Kalo aku dah nangis histeris, kenceng sampai-sampai kupikir bisa bikin orang berdatangan, ibuku juga nggak tinggal diam. Tapi kalo ibuku mungkin mukulnya pake tangan ya, well.. sampe merah sebenernya, dan bukannya diem dong, aku malah tambah nangis nggak terima. Nah, insiden di siram air satu ember ini karena aku nangis sambil teriak-teriak bantah di depan ibuku, dengan suara menggelegar, dan disuruh diem nggak mau. Akhirnya ibukku ambil ember, diisi air penuh, dan tau kalo aku bakal di siram, aku lari keluar rumah, di kejar, dan ... byuuurrr.. aku di siram pake air seember yang dipegang ibuku, aku bahkan yakin ibuku melemparkan embernya ke arahku. Tambah nggak terima, aku ngancem bakal pergi ke selokan besar yang cukup jauh dari rumah. Aku lari ke arah sana, mendiami ibuku yang berteriak, aku pergi penuh dendam. Tapi mengetahui tempat itu cukup jauh, aku putar balik, tapi lewat gang lain. Aku sampai rumah dan tidak menemui ibuku disana, akhirnya aku masuk kamar, meringkuk di bawah kasur, menangis, dan tertidur. Ibuku menemuiku beberapa jam kemudian di bawah kasur, dan akhirnya disayang lagi deh.

5. Nangis karena permainan
Di sekolah kalo main, aku nggak pernah mau bagianku di hitung. Jadi kalau kalahpun, aku tetap bermain dan aku nggak bakal kalah. Kalau aku kalah, aku nangis. Dan nggak mau menganggung resiko untuk mendiamkanku, teman-teman menuruti kemauanku. Kupikir itulah penyebab teman-teman tidak banyak menyukaiku. Dan kelihatannya aku ini tipe orang yang lari dari kenyataan. Nah, kalo di rumah lain lagi. Yang paling kuingat adalah seringnya aku marahan dengan temanku karena permainan yang kami mainkan. Kabur dari area bermain, dan menangis. Beberapa membelaku, beberapa membela temanku yang lain. Kadang temanku yang justru menangis dan aku jadi pihak yang bersalah. Sana nggak mau maafin aku, aku ikutan nangis. Klise banget.

6. Nangis karena pelajaran
Aku cukup bodoh dalam pelajaran matematika ketika masih duduk di bangku SD. Itu adalah penyebab kenapa aku sering bertanya pada ayah untuk beberapa pelajaran tertentu, dan aku tetap tidak mengerti. Karena saking nggak ngertinya, dan karena saking frustasinya ayah terhadapku, akhirnya ayahku marah deh. Dan aku yang juga sebel soalnya di marahin terus, akhirnya nangis. Itu sering sekali terjadi dan aku nggak tau kenapa hal tersebut masih berlanjut sampai ke adik-adikku, meski faseku sudah lama berakhir sih.

Aku sering banget nangis waktu kecil, dengan berbagai kejadian. Tapi yang paling ekstrim dan masih aku inget sampai saat ini adalah 6 kejadian di atas. Hmm... aku bener-bener nggak tau kenapa aku bisa secengeng itu sampai-sampai aku yakin orang-orang di sana masih banyak yang mengingatnya. Tapi jangan salah, sekarang aku nggak secengeng itu kali. Aku cukup belajar dari pengalaman sehingga sekarang nangis itu udah jadi hal yang memalukan bagiku. So, kecuali karena benar-benar ekstrim masalahku, aku nggak pernah lagi sedikit-sedikit nangis, walaupun dongkolnya setengah mati. Masih sering sih perasaan ingin menangis itu muncul, tapi sekarang aku berhasil menekannya agar nggak kelewatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

just give me your best comment :)