Rabu, 27 Maret 2013

bingung kuliah lagi... *terus aja bingung*





Sama kayak taun lalu, belakangan ini aku dirundung kebingungan mengenai kuliah.
Mau lanjut dimana ya?
Ketakutan terbesarku adalah sama seperti sebelumnya, takut memilih jurusan.

Awal tahun ini, aku hanya membuat keputusan bahwa aku akan kuliah tahun ini, tapi hanya sebatas itu, belum berfikir untuk masuk kemana dan mengambil jurusan apa. Aku ingin mencoba tantangan. Masuk Universitas Negeri. Aku ingin menguji apakah kemampuanku cocok berada di Universitas Negeri yang belakangan di daerahku tempat-tempat tersebut sangatlah terkenal dan menjadi dambaan tiap orang.. Well, aku hanya menjadi salah satunya. Salah satu yang bermimpi bagaimana rasanya bisa masuk kesana. Lalu setelah itu, kuputuskan untuk mengambil jurusan Sastra Inggris. 

Sempat terbesit olehku untuk mengambil Psikologi, namun setelah tahu bahwa hanya bisa memilih dua jurusan, akhirnya aku ngotot nyoba di Sastra Inggris semua. Kenapa aku memilih jurusan ini awalnya? Karena aku belakangan sedang sangat menyukai Bahasa Inggris. Di tempat kursusku, banyak motivasi yang membuatku ingin terus mempelajarinya, bahkan ingin kujadikan salah satu hal yang harus ada di hidupku. Karena itulah aku ingin masuk Sastra Inggris. Dengan catatan di Negeri.

Beberapa saat yang lalu, aku mengetahui bahwa biaya PTN itu nggak lebih murah dari Swasta. Bisa saja lebih mahal. Sayang, ayahku nggak mau kalo aku masuk swasta, padahal jelas-jelas aku mikir kalo PTN itu mahal, ayahku tetep aja bilang pasti murah karena ayahku kan dulu kuliahnya di Negeri dan dapet murah. Nggak tau aja jaman udah berkembang. Mungkin.. mungkin kalau aku bisa masuk Negeri, aku bisa berusaha untuk cari beasiswa? Pada akhirnya aku masih berfikir untuk bisa berusaha di Sastra Inggris Negeri namun masih mencari alternatif swasta.

Tapi ada yang kulupakan.

Dan aku nggak tau apa yang kulupakan. Perasaan apa yang hilang ketika aku memutuskan untuk mengambil pilihan tersebut? Di Negeri dan Sastra Inggris? Entahlah. Aku hanya merasa ada yang hilang. Hal-hal sepele seperti semangat, motivasi, keinginan menggebu-gebu, bahkan dorongan dari Ayah yang biasanya antusias tapi kali tidak terlalu antusias meskipun memperbolehkan.
Lalu aku mencoba membangunnya. Aku coba ngerjain soal SNMPTN tahun-tahun lalu, dan kudapati diriku tidak sanggup untuk mempelajarinya lebih jauh. Aku nggak cocok. Kupaksa sekuat apapun, aku nggak cocok belajar. Apalagi kalo sastra inggris aku perlu belajar IPS. Nggak ada semangat yang memaksaku untuk mempelajari itu semua. Mencari bukunya ataupun mempelajari. Padahal sudah hampir satu bulan sejak kuputuskan diriku untuk belajar buat masuk Universitas Negeri. Alhasil, aku malah nggak ngelakuin apa-apa.

Beberapa hari yang lalu, aku disuruh temenku yang sekolah di jurusan DKV ISI buat bantuin ngerjain tugasnya. Meskipun sempat terbesit, tapi aku nggak pernah ada niat masuk ke ISI karena aku berfikir bahwa aku ingin sesuatu yang baru. Aku ingin mempelajari hal lainnya. Aku pernah mempertimbangkan banyak jurusan. Seperti aku akan berusaha masuk ke jurusan komputer di Universitas negeri, kalo nggak keterima larinya ke AMIKOM atau AKAKOM. Lalu aku berfikir bahwa sekolah komputer di universitas negeri nggak bakal menjamin aku akan menikmatinya,s edangkan yang swasta mahal banget. Lalu aku suka bahasa inggris, dan kupikir aku akan masuk negeri, kalo gagal swasta lagi. Tapi ISI tetap berada di deretan yang terakhir. Pertimbangan yang terakhir. Sehingga yang terjadi aku nggak bisa membuka pikiranku tentang masuk ke ISI. Alasannya karena aku nggak suka desain.

Kembali ke temanku. Aku membantunya mengerjakan tugas selama beberapa jam. Tepat pada saat itu, ada kesadaran yang tiba-tiba menyergapku. Yang terus kupikirkan mulai dari tidur sampai hari berikutnya. Bahwa aku menikmatinya. Aku menikmati mengerjakan tugas temanku itu, walaupun capeknya capek banget. Tapi aku bahkan nggak berfikir itu susah, meskipun lamanya bukan main. Sebelumnya aku juga sempet bantuin dia ngerjain tugas, tapi selalu serasa seperti ada ketidakmauan dan keterpaksaan. Setelah kupikir sekarang, mungkin itu karena aku dulu punya pekerjaan sambilan dan itu membuatku tak ingin berfikir lebih banyak. Baru sekarang waktu aku udah agak tenang, nggak dikengkang pekerjaan, kursus yang bisa milih waktunya, dan aku bisa membantu temanku sepenuhnya di waktu luangku, barulah aku mengerti tentang apa yang kuinginkan dan yang kumau.

Yaitu aku ingin belajar tentang komputer lagi. Aku memerlukan kemampuan desain yang lebih besar dari kemampuanku sekarang, dan aku ingin belajar tentang apa yang sudah kumiliki dasarnya lebih jauh lagi. Aku tidak menyukai desain, tapi harus kuakui bahwa aku bergelut dilingkaran itu selama aku bersekolah di Multimedia. Aku bahkan PKL di bagian desain. TA-ku juga malah video, yang lebih banyak berfikir tentang visual. Entah mengapa aku seperti disadarkan, bahwa seperti inilah aliran yang menyeretku sampai saat ini. Bahwa sebesar apapun keinginanku untuk mengatakan bahwa aku tidak ingin dan tidak cocok di desain, siapa sangka bahwa itulah yang mebawaku sampai titik ini. Aku mengajarkan kursus desain dan video. Aku membantu membuatkan desain undangan. Aku tidak pernah merencanakan bergelut di bidang ini, semua itu seperti karena aku terpaksa melakukannya. Tapi kemarin aku sadar, bahwa aku membutuhkan bidang ini. Aku hanya merasa aku harus terus mempelajarinya, terus, dan terus. Karena aku membutuhkannya.

Alasan butuh itulah yang membuat mindsetku berubah ketika aku membantu temanku mengerjakan tugas desainku. Perasaan seperti aku perlu belajar tentang ini. Bahwa kemampuanku ini belum bisa membawaku kemanapun. Aku perlu melangkah lebih jauh.

Dan akhirnya aku menemukan jawaban dari pertanyaan akan perasaan yang hilang ketika aku memilih kuliah di sastra inggris. Aku memerlukan perasaan yang sama ketika aku memilih sekolah di jurusan Multimedia. Aku memerlukan rasa senang ketika mengerjakan hal-hal berkaitan dengan jurusan tersebut. Aku memerlukan rasa nyaman ketika memikirkan mengenai jurusan tersebut. Dan itu adalah perasaan yang muncul ketika membantu temanku. Motivasi yang menyeruak. Aku membutuhkan motivasi belajar yang diperlihatkan dengan kemiripan temanku itu dengan keadaanku di Multimedia dulu. Aku juga membutuhkan motivasi masa depan dan pelajaran yang menyenangkan sehingga aku berani untuk benar-benar terjun di dalamnya sampai beberapa tahun ke depan.

Pilihan terakhirku itu, pertimbangan terakhirku itu, dia justru sebenarnya berada di puncak keinginan dan kebutuhanku. Seperti terkubur, seperti emas yang antri di belakang bebatuan, inilah yang kubutuhkan. ISI. Universitas itu entah kenapa tidak memiliki sesuatu yang negatif lagi di mataku. Aku membutuhkannya untuk berkembang. Untuk masa depanku dan untuk kemampuanku secara utuh. Aku bahkan nggak perlu belajar pelajaran IPS yang nggak aku pelajari waktu di SMK untuk tesnya. Yang kuperlukan adalah meningkatkan kemampuan yang kubuthkan, dan aku berfikir bahwa aku bisa mempelajarinya dengan perasaan senang. Yang terpenting adalah semangat, perasaan menggebu-gebu, motivasi yang justru muncul ketika aku baru membuka mataku terhadap prospek di tempat tersebut. Bahkan ayahku lebih senang dan antusias dari yang kupikirkan ketika aku berkata padanya bahwa aku akan mencoba di ISI. Syukurlah..

Dan untuk jurusannya, aku akan mencoba di jurusan DKV dan Televisi. Kenapa aku memilih DKV padahal aku sangat tahu seperti apa kemampuanku menggambar? Alasannya adalah karena aku ingin terbiasa menggambar meskipun terpaksa, bahwa aku butuh kemampuan itu, bahwa aku yakin meskipun sekarang aku nggak bisa, aku punya motivasi untuk mempelajarinya. Kalau dulu aku berfikir membutuhkan kemampuan lain sehingga aku memilih jurusan-jurusan yang tidak sesuai di universitas negeri, maka disini aku juga akan mencari kemampuan lain di jurusan ini, yaitu menggambar. Sedangkan Televisi, itu menjadi tujuan berikutnya kalau kemampuanku memang tidak bisa membawaku di DKV. Kemampuan yang kubutuhkan disini adalah kemampuan untuk menciptakan ide-ide, shoot-shoot yang menarik, sehingga tontonan video dan cerita tidak menjadi menjenuhkan. Dan kemampuan untuk dapat melakukan hal-hal di belakang panggung. Aku merasa di bagian video mungkin aku bisa lebih cepat memahami, tapi akan lebih baik bahwa aku bisa membuatnya sempurna.

Dua jurusan itu adalah harapanku di ISI, untuk saat ini. Meksipun aku tidak tahu apakah nanti hanya satu saja yang kupilih atau dua yang kupilih, tapi aku akan mencobanya. Kalaupun memang aku tidak bisa masuk, aku akan mencari alternatif lain. Bukan lagi dengan alasan bahwa aku sedang menyukainya saat ini, tapi tentang apa yang kubutuhkan dan mampu kupertahankan. Well, semoga aku bisa masuk. Mohon doanya ya :D
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

just give me your best comment :)