Kamis, 14 Maret 2013

menciptakan kebiasaan berkerudung


"Jilbab"

Pada dasarnya benda itu adalah sesuatu yang pada saat ini sedang trend-trendnya. Dari sisi fashion pun semakin bervariasi sehingga penggunaan jilbab itu menjadi semakin menarik. Sebenarnya aku juga ingin mencoba hal-hal seperti itu, hanya tidak cocok saja. Di lain pihak, menariknya penggunaan jilbab dan segala variasi juga membuat semakin banyak saja wanita yang well.. belakangan justru aku hampir melihat semua wanita beragama Islam yang kukenal mengenakannya. Entah kenapa aku merasa senang melihatnya. Dulu waktu aku SMP teman-temanku masih memilih memamerkan rambutnya tapi sekarang aku seperti memiliki banyak teman. Hmm.. apa alasannya? sekedar fashion? menutup aurat? biar keliatan alim? kebutuhan? yah. banyak alasan.

Sedangkan aku sendiri memakai jilbab hanya karena alasan sederhana. Terbiasa. Kebiasaan yang pada akhirnya membuatku tidak bisa lagi lepas tanpanya. Sama seperti sholat. Aku melakukannya karena terbiasa. Merasa buruk jika tidak dilakukan. Dan aku sudah memulainya, jauh jauh hari sebelum trend pemakaian jilbab berkembang menjadi semenarik ini. Yang aku syukuri adalah, karena bukan alasan 'ingin terlihat cantik' makannya aku menggunakan jilbab, melainkan aku harus melakukannya saja. Yah, namanya juga kebiasaan, pada dasarnya kan semua kebiasaan itu tidak akan terjadi tanpa adanya adaptasi dan paksaan, atau kebutuhan. Seperti kita berbicara saja. Lancarnya juga hanya karena alasan terbiasa.

Aku akan bercerita mengenai diriku sendiri. Seperti biasanya.


Kebiasaanku menggunakan kerudung dimulai ketika aku masih duduk di sekolah dasar. Alasannya memang sangat sederhana. Jika kita mengenal bahwa ada kebiasaan yang tercipta karena terpaksa, maka kebiasaan yang terjadi padaku adalah karena faktor malas dan ingin. Jadi, sejak kecil ibuku sering mengatakan padaku bahwa semua keluarga ibuku yang perempuan selalu memakai jilbab dan ibuku menyuruhku melakukan hal yang sama. Memang terdengar seperti tuntutan, tapi bagiku, itu bukanlah paksaan. Untukku, pertama kali aku mengenal jilbab itu hanya sama seperti aku mengenal jepit rambut, bando, ikat rambut, atau bahkan mainan. Melihat ibuku di usiaku yang masih TK sering menggunakan cadar, maka aku memainkan kerudungku dan membuatnya menjadi berlapis-lapis hanya agar aku bisa meneru gaya ibuku dalam berkerudung. Baiklah, kelihatannya orang tuaku sudah sering mamakaikanku kerudung sejak aku masih kecil, sampai-sampai aku punya bahan untuk memainkannya. Aku ada cerita. Ibuku berkata bahwa aku memulainya sejak TK, meskipun tidak begitu adanya. Beliau berkata bahwa di TK tempatku belajar, penggunaan kerudung hanya pada hari kamis saja setiap harinya, tapi bukan karena keinginanku, ibuku memakaikanku kerudung hampir setiap hari. Baiklah, aku sama sekali tidak ingat. Tapi toh fotoku TK juga tanpa kerudung. Tapi bukan berarti 'dipakaikan' seperti itu kemudian membuatku terbiasa ya. Aku sama sekali tidak ingat aku jadi terbiasa memakai kerudung mulai dari TK. Kupikir itu hanya kesenangan orang tuaku saja.

Kemudian memasuki jenjang Sekolah Dasar. Kalau sekarang di SD sudah tidak aneh kalau anak-anak menggunakan jilbab meskipun roknya pendek, lengan atas pendek. Tidak harus malu yang penting berkerudung, dan terlebih lagi, selalu ada kawan. Pada saat aku masih SD tidak begitu. Mungkin pemakai jilbab seperti itu malah menjadikan bahan tertawaan. Atau mungkin tidak? Baiklah, itu hanya pikiranku semata. Aku mulai bisa berfikir dan mengamati sekitar, bahwa tak satupun temanku menggunakan jilbab. Aku hanya bersekolah di SD Negeri, karena disana memang adanya itu, dan orang tuaku tidak sempat memikirkan sekolah lain. Orang tuaku sudah tidak lagi berinisiatif memakaikanku kerudung setiap harinya. Mungkin sudah bosan. Atau menunggu keinginan itu datang dari dalam diriku sendiri? Yang pasti, memasuki sekolah dasar, aku tidak atau belum merasa memakai jilbab itu penting dan menarik. Aku lebih tertarik mengucir rambutku dengan model kucir kuda, kucir dua, di kelabang. Yah, khas anak kecil. Memainkan rambut barbie adalah kesenangan, memainkan rambut sendiri tak kalah menyenangkan.

Aku mengenal lagi penggunaan jilbab, ketika aku mengenal TPA. Taman Pendidikan Al-Qur'an. Jelas, aku harus selalu siap menggunakan jilbab jika aku harus berangkat mengaji. Dan ibuku sudah menyiapkan segalanya. Baju muslim, langsungan atau lepas. Ada cukup banyak di rumah sehingga aku tidak perlu pusing setiap hari mencari mana yang harus kugunakan. Itu ketika aku mengenal jilbab lagi, bukan berarti aku tertarik menggunakannya. Aku masih cinta setengah mati sama hiasan-hiasan di rambutku, dan memakai jilbab ketika mengaji hanya formalitas saja, toh setelah sampai di rumah di lepas dan main lagi.

Dan sekitar kelas 5 SD, alasanku bukan karena tertarik, tapi malas.

Saat itu, sering untukku bermain ketika pulang TPA, bermain di lapangan yang berada tak jauh dari masjid tempatku mengaji. Aku biasa pulang meletakkan segalanya, melepas kerudung, dan main. Tapi aku mulai merasa malas. Malas pulang ke rumah, malas meletakkan segalanya, malas melepas kerudung. Jadinya aku malah duduk-duduk di pinggir lapangan dengan perlengkapan TPA. Meletakkannya, dan bermain. Tidak ada yang salah denganku, tidak ada yang merasa aneh terhadapku. Pada akhirnya kami sama-sama terbiasa. Teman-temanku terbiasa melihatku menggunakan jilbab sambil bermain ketika pulang TPA, dan aku terbiasa bermain tanpa melepas kerudung. Yap. Itu awal kebiasaanku. Tetap saja, bukan berarti aku terus menggunakannya, karena ke sekolah aku masih belum berani memakainya. Lalu aku tak tahu apa alasannya. Karena terbiasa meletakkan sesuatu di atas kepalaku dari sore menjelang hingga sore tiba atau malam tiba, sedangkan di siang hari aku lebih sering bermain di rumah, membuat orang-orang di sekitarku terbiasa melihatku berkerudung. Mereka tidak mengatakannya, aku hanya merasakannya. Dan aku sungkan menanggalkannya.

Tiba-tiba ada perasaan aneh yang merambatiku saat itu. Perasaan malu. Malu keluar tanpa jilbab, malu membuat orang-orang melihat aku yang tidak berkerudung, malu merubah pandangan mereka terhadapku, dan aku tak tahu kenapa, aku merasa seperti tidak bisa pergi jauh dari rumah tanpa membawa kerudung yang seperti sudah melekat dalam diriku. Oke, mereka masih sering melihatku tanpa kerudung ketika pulang sekolah, bahkan teman-temanku sekalipun. Tapi aku hanya merasa membutuhkannya. Itu saja. Model kerudung bukan jadi masalah buatku. Hampir semua kerudungku itu langsung pakai, tidak perlu peniti dan segala macam. Bentuknya juga gitu-gitu aja. Monoton, tidak ada yang menarik. Aku juga tidak merasa kerudungku itu membuatku lebih cantik. Hanya saja, tidak menggunakannya di lingkungan rumah sama seperti keluar rumah hanya menggunakan kaos singlet. Malu.

Dan aku memutuskan, bahwa apapun yang terjadi, aku akan menggunakan kerudung ketika aku di lingkungan rumah, bermain, atau apapun itu. Selama aku di dalam rumah, tidak jadi masalah buatku menanggalkannya, meskipun siapa saja yang main ke rumah. Kalau tak salah ingat, bahkan laki-laki masuk ke rumah aku juga tetap menanggalkannya sih. Sebentar, apakah masalahku ada di bagian 'rumah'nya? Apapun itu. Di rumah aku selalu menggunakan jilbab. Bukan hanya sepulang TPA. Setiap aku keluar rumah. Setiap aku pulang sekolah dan bermain. Setiap aku keluar rumah untuk jajan atau ke warung. Tidak terkecuali.

Tuh kan? Aku tidak menggunakan kerudung karena ingin terlihat lebih alim atau lebih cantik. Buktinya, meskipun aku menggunakan lengan pendek, aku tetap menggunakan kerudung. Aku tidak tau alasannya, tapi aku merasa rambutku itu tidak bisa di pamerkan dengan mudah lagi. Aku juga tidak lagi tertarik untuk mengucir rambutku dengan segala gaya. Dan perasaan lain yang muncul adalah, menggunakan kerudung membuatku lebih mudah dan simpel. Aku tidak perlu menyisir rambutku untuk terlihat lebih manis, tidak perlu mengucir rambutku agar terlihat menarik, sekali memakai kerudung, segalanya beres. Masalah utamaku memang ya, malas. Tapi itu jadi keuntungan tersendiri untukku memakainya. Dan aku semakin merasa menyukainya.

Di kelas enam, kebiasaan itu masih terus berlanjut, hingga akhirnya aku memutuskan, aku akan menggunakan kerudung secara utuh setelah aku masuk SMP. Aku berfikir di SMP aku hanya akan bertemu dengan orang-orang baru. Daripada melakukannya di tengah-tengah, aku akan membuat mereka berfikir bahwa aku adalah gadis berkerudung. Aku akan membangun image itu. Aku mengatakan pada orang tuaku bahwa aku mau pakai baju muslim aja kalo SMP, dan kupikir mereka senang.

Setelah memasuki jenjang SMP, tak satupun orang pernah melihat rambutku di luar rumah. Tidak seorangpun melihatku tidak berkerudung di luar rumah. Aku membuat orang-orang berfikir demikian. Aku merubah imageku. Aku berhasil. Oke, hanya ada sedikit sekali yang selalu menggunakan jilbab di manapun ketika keluar rumah. Aku bisa menghitungnya. Hanya tiga orang dari ratusan orang di perumahanku. Dan bukan berarti aku tidak ingin melepasnya. Sebenarnya aku juga sering terprovokasi karena hampir semua teman dekatku tidak berkerudung, dan terkadang aku ingin menghias rambutku lagi, memamerkannya pada semua orang yang kukenal. Tapi perbedaan itu justru yang semakin menguatkanku. Aku tidak lagi merasa mudah melepas kerudungku meskipun memang mudah melakukannya. Aku membangun image yang cukup baik untuk diriku sendiri, dan aku hanya merasa akan menghancurkannya jika aku melepaskannya kembali. Terlebih lagi, aku tidak suka membuat orang berfikir aku tidak konsisten. Mau pake krudung atau enggak sih? Mungkin orang-orang tidak terlalu meributkan hal tersebut, tapi bagiku, itu menjadi maalah yang sangat rumit. Atau mungkin aku yang tidak mau diriku merasa tidak konsisten dan membuat imageku jadi mencla-mencle? Katakanlah demikian. Meskipun berbeda, tapi karena minoritas, entah kenapa bedanya aku dengan teman-temanku membuatku lebih spesial, setidaknya untuk diriku sendiri. Toh, aku juga masih bisa bermain dengan teman-temanku seperti dulu. Tidak ada yang berubah sama sekali. Tidak ada yang berubah dari temanku bahkan tidak sekalipun menanyaiku. Aku juga tidak menyadari ada yang berubah. Semuanya hanya seperti sesuatu yang natural terjadi saja. Perubahan yang terjadi tanpa seorang pun menyadari. Itu menyenangkan. Aku suka dengan perubahan semacam itu.

Dan itulah yang terjadi padaku sampai saat ini. Masih berkerudung, tapi lagi-lagi ada yang berubah. Gaya berkerudung. Mungkin karena faktor umur juga sih. Dulu aku paling benci ribet. Itulah alasanku terus berkerudung. Tapi aku juga tidak sadar, bahwa aku membuat menggunakan kerudungku justru menjadi lebih sulit sekarang ini. Dulu, waktu SMP aku masih lebih tertarik memakai kerudung langsungan sehingga menghemat waktu. Kalau bukan karena terpaksa, aku tidak pernah memakai kerudung segitiga. Menginjak SMK, aku merasa kerudung langsunganku banyak yang rusak, dan lagi, aku merasa kerudungku tidak ada yang bagus. Baiklah, alasan utamanya sebenarnya karena di sekolahku sendiri memang tidak boleh menggunakan yang langsungan. Katanya 'kelihatan kayak mau main aja' jadi aku mulai membiasakan diri menggunakan yang berpeniti. Itu juga hanya menjadi kebiasaan. Sehingga sekarang, kalau mau pergi jauh atau hang out dengan teman-teman, aku selalu memakai kerudung yang berpeniti. Tapi kalau untuk pergi-pergi yang tidak terlalu penting, aku tetap memilih kerudung langsungan. Alasannya karena malas. Alasan sama.

Ada yang berubah lagi, sepertinya aku tidak hanya menggunakan sebuah peniti sekarang ini. Kadang menambahkan jarum pentul beberapa dan bros. Kenapa malah jadi ribet ya? Kupikir umur mempengaruhiku untuk membuat perubahan juga sih. Yah apapun itu, aku selalu merasa kebiasaanku berkerudung adalah kebiasaan yang paling menyenangkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

just give me your best comment :)