Bagaimana kau tanpa ibumu? Atau bagaimana kau dengan Ibumu?




Tidak ada yang menarik malam ini sebenarnya. Hanya saja ketika aku sedang membantu adikku mengerjakan tugasnya, tiba-tiba sebuah kejadian masa lalu menerpa ingatanku. Ingatan ketika aku tengah duduk di kelas 4 SD. Ketika aku mendapatkan luka pertama kali di ibu jari dan lukanya masih ada sampai sekarang.

Aku lupa apa yang sedang kulakukan kala itu. Yang aku ingat adalah bahwa cuaca sedang terik, mungkin sekitar jam 1-2 siang. Ibuku sedang tidur, begitu pula adikku. Kelihatannya aku sedang membutuhkan sebuah silet kecil berwarna silver dimana di tempat tinggalku orang menyebutnya pemes karena kita harus menarik bagian tajamnya dari pelindung. Dan yang kuingat adalah bahwa silet yang kubawa itu masih baru dan bersih. Masalah muncul ketika aku kesulitan membukanya.Karena aku harus menggunakan bagian tajamnya, jadi aku perlu menariknya dari si pelindung, sayangnya itu sangat sulit dan keras.


Ketika sudah membuka sedikit aku masih kesulitan menariknya sampai mentok, sehingga yang kupikirkan berikutnya adalah mendorong bagian dalamnya dimana daerah itu adalah daerah utama yang paling tajam. Singkat cerita kuletakanlah ibu jariku di antara si pelindung dan silet yang sudah berhasil kutarik dimana ibu jariku sedang menengadah ke atas, ke arah bagian tajamnya. Ku dorong dan aku sangat lupa bahwa bagian yang kudorong itu masih sangat baru dan tajam, dan tak lama setelahnya tiba-tiba saja 'jleb'. Meskipun tidak terlalu dalam, tapi ketajamannya mampu membuat kulit bagian bawah ibu jariku mengeluarkan darah yang tidak bisa berhenti dan mulai jatuh ke lantai. Silet yang kubawa langsung terjun bebas jatuh ke lantai sedangkan aku mulai kelabakan. Aku tidak berteriak, tidak menangis. Tapi takut. Takut mendapati ibuku memarahiku karena darah yang tidak mau berhenti. 

Lalu aku tetap dengan diam mulai berkeliling mencari sebuah pertolongan pertama sambil terus memegang ibu jariku. Lalu yang kudapati adalah kapas dan tisu dan segera saja ku tarik dan kulilitkan di ibu jariku. Tapi melihat warna merah yang masih meresap diantara serat serat tisu dan kapas akhirnya aku memutuskan untuk membeli sebuah handsaplas. Saat itu aku berfikir bahwa aku membutuhkan uang 500 untuk membelinya dan aku mulai memasuki kamar tempat ibuku tidur dan aku mulai mencarinya pelan-pelan di setiap sisi di dalam kamar. 

Hanya saja, saat itu aku merasa bahwa ibuku bisa merasakannya.Ditengah tidurnya bahwa ada yang salah denganku, dengan tingkahku. Sehingga aku memang cukup terkejut ketika beliau melihatku.

Mom : put, kamu ngapain?
Dan aku tak tahu mengapa, aku bahkan tidak bisa jujur saat itu juga.
Me: enn..enggak kok, bu..
Hanya saja ibuku itu ternyata sangat memperhatikanku sehingga ibuku pun mulai bangkit dari tempat tidur.
Mom: hayo kamu nyari apa?
Aku masih terdiam. Entah kenapa saat itu aku merasa seperti tertangkap mencuri mangga tetangga.
Mom: itu tanganmu kenapa? Ha? Kok dipegangin?
Sedangkan aku mulai merasa terpojok dan bukannya menjelaskan aku malah meracau.
Me: ini mau beli hansaplas kok..
Lalu saat itu aku melihat ibuku keluar dari ranjang dan mulai berjalan ke arahku.
Mom: tanganmu berdarah ya?
Aku akhirnya tidak bisa menyembunyikannya lagi dan ibuku pun melihat balutan yang warnanya semakin memerah ketika sampai di depanku. Aku juga menyerah, akhirnya kuperlihatkanlah tanganku yang terluka itu dan aku tak mengetahui ekspresi ibuku karena aku hanya menunduk takut.
Me: tadi kena pemes..
Tanganku sudah berpindah di atas telapak tangan ibuku
Mom: ya ampun puut, kenapa kamu nggak bilang dari tadi sih?
Ibuku mengatakannya dengan nada yang ditinggikan seperti marah dan itu membuatku semakin tidak berani menengadahkan kepala.
Me: lha ibuk tadi masih tidur, nanti aku dimarahi.
Mom: haduh kamu tu, yaudah sini ikut ibu.

Setelahnya, yang aku ingat ibuku mengambil betadine, dan peralatan obat lainnya. Kemudian aku melihat ibu jariku terbalut kain putih dengan warna warna coklat terlingkar di sisi sisinya. Lalu aku hanya mengingat bahwa ibu jariku di perban.Well, apa yang ingin kusampaikan hari ini bukan tentang kejadian tragisnya, tapi lebih pada perasaanku saat itu.

Melihat bekas luka yang hampir satu dekade masih terlihat di ibu jariku membuatku berfikir, apa yang sedang kupikirkan saat itu? Bukannya menangis dan meminta tolong ibuku, aku malah diam dan berusaha mencari jalan keluarnya.

Pada ibuku, hari itu aku hanya takut bahwa ibuku akan marah dan dalam hati aku berharap ada jalan keluar dengan caraku tanpa harus membangunkannya. Aku selalu merasa bahwa setiap hari ibuku selalu memarahiku, mengaturku, memaksaku makan tepat waktu, memaksaku pulang cepat, menyuruhku tidur siang, menyuruhku meminta ijin sebelum pergi. Betapa saat itu peraturan adalah hal yang tak kusukai apalagi dari mulut ibuku. Ibuku sangat sering memarahiku karena dulu aku anaknya ngeyel, sehingga sebagian besar pandangankku terhadap ibuku adalah menyeramkan. Meski begitu ibuku tidak pernah menyerah untuk terus mengatur dan memperbaiki hal-hal yang salah dalam perilakuku.

Kini kalau aku memikirkannya lagi, melihat adikku tidak mendapatkan hal serupa?, entah kenapa aku merasa sedih. Aku bahkan merasa sangat merindukan beberapa hal. 

Lalu kesadaran lain pun muncul di benakku.

 

 Aku tidak menyadarinya ketika aku kecil, tapi sekarang aku tahu bahwa apa yang ibuku berikan padaku walaupun sebuah teriakan, amarah, dan bentakan, tapi itu adalah selalu hal yang baik. Selalu hal hal yang membangun karakterku untuk menjadi anak yang baik. Untuk membuatku lebih dan semakin kuat. Begitupun, diusiaku dulu, aku tidak menyadari bahwa sesering apapun aku melawannya, sesering apapun aku balas membentaknya, menangis meneriakinya, ibuku terus saja bersabar padaku.

Daripada sebuah hari ibu, aku merasa bahwa masa ketika dirinya membangun karakterku, itu adalah hari ibu terbaik untukku. Bahwa tanpa kusadari, ia selalu memberiku hal-hal yang kubutuhkan tanpa aku memintanya. Betapa dirinya telah memikirkan dewasaku bahkan ketika aku sama sekali tidak memikirkannya.

Kemudian ketika aku mengingat cerita di atas tadi, aku merasa bahwa yang kurasakan bukanlah sebuah ketakutan. Sekarang aku menyadari, bahwa ketika kecil aku ternyata pernah berfikir untuk tidak membuatnya khawatir. Aku tidak menangis dan justru sibuk sendiri, memang karena aku takut membangunkan ibuku, tapi setelah kuingat, ternyata itu karena aku tidak ingin ia terbangun dan khawatir pada keadaanku. Tuh, diusiaku yang kesepuluh, kelas 4 sd, aku bahkan berhasil tumbuh untuk tidak manja dan berusaha berani melangkah sendiri. Memang itu hanya sebuah kasus kecil dan sepele, tapi kini aku bisa tahu dari siapa dan bagaimana aku bisa tidak marah dan tidak depresi dengan keadaan keluargaku. Bagaimana kini aku tidak bermanja pada siapapun. Sekarang aku tahu, siapa yang mengajari dan membentukku.

Dan ketika aku melihat adikku, tanpa sosok ibu di sampingnya yang bisa memanjakannya, dan aku melihatnya begitu mandiri di usianya yang kesepuluh, entah kenapa keyakinan bahwa karakterku di bangun karena ibuku justru semakin kuat. Ketidakmanjaan yang ada dalam diriku, kontras sekali dengan apa yang ada pada adikku. Adikku bahkan tidak tahu rasanya dimarahi karena tidak mau makan, diceritakan cerita-cerita mitos, disuruh pulang setiap malam, menyuruhnya tidur malam, melarangnya bermain, dan hal hal yang dulu sering membuatku marah terhadap ibuku. Meski begitu, adikku tetap tumbuh sebagai adik yang tidak manja karena memang sejak dulu tidak ada tempatnya bernaung untuk bermanja. Meski ia selalu dimarahi jika menangis, sama sepertiki dulu, tapi ia tidak pernah meminta seseorang memperhatikannya. Tidak ada yang memarahinya, dan aku tidak tahu apakah itu hal yang baik atau tidak untuknya. Aku, adik pertamaku, dan ayahku selalu bersikap baik padanya, selalu memberikan hal-hal yang ia butuhkan, tapi tidak ada yang berhasil berlaku seperti ibuku dulu. Tidak ada yang bisa secara konsisten memaksanya makan siang, adikku bahkan tidak tahu bagaimana rasanya di suapin.

Hah.. terkadang aku berfikir, meskipun aku tumbuh untuk tidak manja dan tidak memohon perhatian, tapi aku merasa bahwa aku tumbuh dalam lingkup kemanjaan. Aku tumbuh dalam perhatian tersirat dari ibuku yang selalu kubenci setiap hari. Aku tumbuh dalam kekangan, sekarang aku sadar bahwa kekangan itu adalah ingatan yang sangat berarti bagiku.

Seperti apakah kamu dengan ibumu? Aku merasa perhatian tersirat dari ibuku yang di tunjukkan dalam amarah yang membuatku kesal adalah sebuah didikan yang sangat kubutuhkan. Meskipun didikan itu hanya berhenti saat aku kelas 2 SMP sehingga aku masih tidak dapat menyadari esensi mencuci piring dalam iklhas juga memasak, tapi karakterku terbangun kuat di atas harapannya
.
Dan bagaimanakah kamu tanpa ibumu?. Kebebasan tersirat yang ditujukan pada adikku dengan tidak ada kekangan tapi tetap dalam aturan-aturan yang benar dari kakak-kakaknya, membuatnya tumbuh dalam karakter kemandirian yang tidak mudah bergantung pada orang lain. Entahlah, aku tidak tahu apakah ia bisa merindukan hal-hal yang kurindukan?

Yang kutahu hanyalah, bahwa sosok seorang ibu itu penting karena ada ketulusan tak terbatas dalam dirinya.

Komentar

Popular Posts

Back to PPAK ISI (Kelompok 13)

HARI INI #3 Janji

HARI INI #2 Macet