Kamis, 03 April 2014

Sahabat untukku adalah sahabat yang seperti ini :)

Teman itu banyak.
Tapi sahabat... kau hanya akan memukan satu dalam satu periode.




Ketika aku SD, aku pikir aku memiliki seorang sahabat. Hubungan yang terjalin di antara kami sebenarnya sangat kuat dan somehow itu meyakinkanku bahwa ia akan selalu ada untukku. Yah tapi itu tidaj terjadi. Persahabatanku ketika SD itu seperti cinta monyet. Yang mudah kandas karena belum dewasa.

Di SMP, aku menemukan 3 orang yang kupikir akan terus menjalin kontak dan obrolan panjang denganku dalam waktu lama. Tapi hanya 2 orang yang akhirnya selalu ada di sampingku. Kalau bukan karena perjuangan mereka untuk selalu membuat kami keep in touch, mungkin aku masih belum bisa merasakan rasanya bersahabat. Yang melegakan dan agak mengagetkan, setelah tiga tahun berlalu tanpa terasa mereka masih sering berhubungan denganku. Tidak ada yang canggung ketika kamu bahkan tidak bertemu selama satu bulan. Saat itu aku berfikir bahwa esensi persahabatan itu juga bisa terlihat bagaimana keberadaan mereka untuk kita sendiri. Dan itu adalah pertama kalinya aku berfikir bahwa persahabatan itu bukan sekedar kata tetapi juga memiliki arti yang mendalam. Bukan lagi sekedar kecocokan dalam pembicaraan, tetapi kebiasaan yang nantinya akan membuat semua kata bersatu padu menjadi bumbu yang lain. Tetapi yang lebih kuat dari obrolan yang dilakukan  oleh kami ternyata adalah kekuatan dari adanya satu untuk yang lain. Terimakasih buat kalian. A & C ;)

Di SMK, sebuah kemajuan bahwa kedekatanku dengan anak anak dikelas jauh lebih baik dari kedekatanku dengan temanku di SMP. Aku bisa berbaur lebih cepat dengan anak kelas. Aku tidak lagi berkelompok seperti ketika di SMP. Aku bisa berbagi cerita dengan siapa saja, dan... aku hampir tidak pernah merasa canggung dengan siapapun teman di kelasku. Saat itu, sejak aku mulai menapaki jejakku di masa SMK sampai tiga tahun kemudian ketika akhirnya kami lulus, aku merasa bahwa aku tidak bisa lagi menyebut teman-temanku itu sebagai 'teman' tetapi lebih dari itu, mereka adalah keluargaku. Perjuangan kami adalah perjuangan yang bisa membuatku menitikkan air mata setiap kali aku mengingat mereka. Keberadaan mereka sangat penting untukku dan hidupku. Aku tahu, bahwa mereka akan ada untukku di saat aku membutuhkan mereka. Setiap kali aku bertemu dengan mereka, aku hanya akan merasa senang meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa dalam prosesnya ada sangat banyak sekali konflik. Tapi aku juga harus mengakui bahwa pada akhirnya, ketika akhirnya kami lulus, kami akan sibuk dengan urusan masing-masing, masa depan masing-masing, dan keluarga baru masing-masing. Dulu aku pernah berfikir bahwa mereka semua adalah sahabatku, karena aku merasakan rasa yang lebih dalam dari rasa pertemanan ketika bersama mereka. Tetapi lagi-lagi aku terkecoh. Esensi persahabatan itu tidaklah sama dengan keluarga. Mereka adalah keluargaku, mereka akan ada di saat aku butuh, tetapi aku juga perlu menghormati kehidupan mereka yang baru. Dan kembali lagi, bahwa teman itu bisa banyak, tetapi yang namanya sahabat itu bisa di hitung. Dan aku merasakannya setelah dua tahun kelulusan. Benar kata ayahku, sahabat itu kalo ada tiga bahkan kebanyakan. Biasanya cuma satu.

Teman SD ku, ternyata bukan sahabatku.
Teman SMP-ku, aku hanya dapat dua sebagai sahabat.
Teman SMK-ku, lucunya aku hanya dapat seorang sahabat dengan keeratan yang cukup tak terduga karena aku saja lupa kapan kami memulai persahabatan ini. Aku hanya tahu bahwa kami masih sangat sering bertemu bahkan setelah dua tahun kelulusan, kami masih melepas rindu bersama, dan kami masih mengenal satu dengan yang lain tanpa kehilangan kabar berita sedikitpun, dan apa yang ia lakukan tanpa melepas komunikasi di antara kami itulah yang kemudian membuatku menjadikannya sahabatku.

Sekarang aku kuliah, dan jujur saja aku cukup dekat dengan beberapa orang. Tapi apakah mereka adalah sahabatku?

Aku belum bisa melihatnya saat ini. Saat ini bagiku mereka adalah orang yang sama-sama saling membutuhkan seperti aku pada mereka saat ini. Mereka adalah teman dekatku, sangat dekat hingga mau memikul beberapa bebanku yang kadang tidak sanggup aku pikul seorang diri. Tapi persahabatan dalam kamusku, tetap akan terlihat setahun dan beberapa tahun setelah aku berhasil lulus dari sini... 

Menurutku sahabat itu akan datang dengan sendirinya. Ia seperti jodoh, mungkin sudah di atur dan akan datang dengan sendirinya tidak perlu dicari. Ketika kami saling membutuhkan atau kami tidak saling membutuhkan, kami pasti berharap satu di antara kami tahu. Sahabat bukanlah orang yang akan kamu temui hanya ketika proses tersebut berlangsung, tetapi ia adalah orang yang akan tetap mencarimu di saat mereka bahkan tidak membutuhkanmu. Mungkin hanya melepas penat dan ingin bicara.

Kata orang, sahabat itu adalah orang yang akan ada di sampingmu ketika kamu merasa sedih dan senang. Tapi bagiku, sahabat akan aku letakkan ketika aku merasa senang dan ingin bercerita. Ketika aku merasa penat dan sedih, susah dan terjatuh, semua akan aku kembalikan ke keluarga - keluarga kandung, yang tidak akan mengeluh apapun kesusahanku. Keluarga -teman, aku meletakkan mereka sebagai penyegar kepenatanku yang memuncak dengan tawa dan canda yang membuatku merasa jauh dari hal-hal yang menyedihkan. Sahabatku mungkin berbeda dari sahabat yang lain. Untukku, sahabat tetap saja orang-orang yang harus aku perhitungkan ketika aku ingin membebani mereka dengan masalahku. Aku tidak bisa menjatuhkan mereka beban yang sama denganku. Bagiku, mereka adalah tempatku berbagi cerita yang pertama. Cerita sedih dan senangku, tetapi aku tidak terlalu pandai untuk membagikan rasa sakitnya ketika aku sedang dalam proses. Itulah sahabat untukku. :)

Happy Bestfriend :) Love you All

3971262786

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

just give me your best comment :)