Selasa, 23 Februari 2016

Semua Keputusan



Hai, blog. Long time no see, Long time no writing...

Honestly, menulis adalah salah satu cara untuk melampiaskan perasaanku selain melalui novel dan film, atau video korea. Mungkin karena media tersebut pada akhirnya tetap membuatku kepikiran tentang apa yang kurasakan kalau kadarnya sudah agak berlebihan seperti ini, jadi satu-satunya jalan mungkin adalah menulis. Lagipula di blog ini tulisanku jarang sekali, jadi kesimpulannya adalah aku tidak terlalu sering merasakan jungkir balik kayak gini, atau saat-saat ketika aku mencapai titik untuk menyimpulkan sesuatu tentang diriku sendiri.

So, what's going on with me today?
Or maybe recently?


Aku akan memulai dari data-data yang kuperoleh tentang diriku sendiri selama beberapa waktu ini, yang berakhirnya jadi sejenis fakta-fakta tentang diriku saat ini:

1. Aku ingin menyelesaikan novelku, apapun itu, bagaimana caranya. Bodo amat. Aku sampe nyelesein baca buku 'menulis outline' cuma biar tau gimana caranya biar tulisanku rampung. Anjiiir udah berapa lama aku nulis dan nggak pernah kelar. Sejak kelas 5 SD. KELAS 5 SD! FINE!!! Oh ya ada satu lagi, aku sampe kuliah di jurusan televisi cuma biar bisa memahami kiat-kiat menulis. Kan nggak signifikan banget yaa...?
2. Aku kemarin baru saja membaca status facebook dari temenku, yang dikomen dosenku seperti ini:


Just a simple statement, really. Tapi aku bener-bener jadi kepikiran. 

Selama aku kuliah di ISI, fakultas Seni Media Rekam, Jurusan Televisi, aku selalu takut akan sesuatu. Aku takut aku nggak ngerti apa-apa tentang apa yang kupelajari. Aku nggak ngerti apa-apa tentang seni, aku nggak ngerti apa-apa tentang televisi, aku nggak ngerti tentang dunia yang sedang kuinjak ini. Aku nggak berani ngaku, apa motifku sebenarnya kuliah. Karena ketika aku menjelaskannya atau kemudian jujur, orang pasti akan berkata 'kalo gitu nggak usah kuliah aja daripada niatnya gitu'. Right, intention, niat. Niat kenapa aku kuliah disini, dan niatnya ya kalo didenger-denger kok jelek banget ya?

Tapi aku nggak ada niat juga, untuk merubah niat awalku. Selama ini aku selalu menyadari bahwa aku tipe orang yang plinplan, mudah terombang-ambing, mudah terpengaruh. Ketika aku memilih ISI, bukan, sejak aku lulus SMK, aku memutuskan ini pilihanku, tidak mau mendengar orang lain mempengaruhiku, dan itu bukan karena aku keras kepala, tapi karena aku MENCOBA. Sebelumnya aku selalu terbujuk orang lain, nggak sering sih, tapi daripada keukeh sama pendiria aku memang lebih suka melenceng ke arah lain. 

Ketika aku memilih KENAPA aku sekolah di ISI, atau KENAPA aku kuliah, atau kenapa aku menunda setahun untuk bekerja, aku juga berusaha nggak terpengaruh oleh siapapun. Aku mencoba mengubah diriku untuk hal tersebut. That's a big step. Aku berusaha membentuk diriku agar lebih mandiri untuk setiap keputusan yang kuambil, dan itu adalah hal yang sulit. Sampai sekarang pun ada beberapa hal yang masih belum berhasil kuubah.

Kembali ke pernyataanku di awal tentang komentar yang ditulis dosenku terhadap status temanku, itu membuatku ingin jujur lagi kepada diriku, kepada keputusan awalku kuliah, dan itu bisa dilihat dari postinganku sebelumnya yang pernah membahas soal kuliah, bahwa aku kuliah adalah untuk memperoleh Ilmu, pengetahuan, untuk belajar lagi, untuk mendapatkan teman lagi, dan berkaitan dengan jurusan yang aku ambil, adalah untuk bisa membantuku untuk lebih lancar menulis. Bukan untuk bekerja di televisi, bukan untuk bisa membuat film, bukan untuk punya Production House, bahkan bukan untuk menjadi penulis naskah. Apakah alasan tersebut salah? Apakah alasan itu tidak kuat untukku bertahan di bidang ini? Tapi sejujurnya aku nggak peduli, aku nggak peduli tentang Televisi atau Film, aku hanya mempedulikan tujuan awalku tersebut. Bahkan kata 'mendapatkan teman' lebih spesifik cukup teman-teman di angkatanku, teman sekelas, bukan kakak angkatan, bukan organisasi, bukan adik angkatan. Jadi berdasarkan komentar tersebut, aku berada di antara 75%. Entah 50% kuliah dengan baik saja, atau 25% yang penting dapat kartu mahasiswa. Aku setuju dengan pernyataan tersebut, dosenku melihat apa yang terjadi pada umumnya, dan aku merupakan apa yang terjadi pada umumnya. Aku tidak mungkin berada di 25% yang kuliah dengan sangat baik sekali, karena tujuan-tujuanku tidak mengarahkanku kesana. Karena kalau aku adalah 25% yang kuliah dengan sangat baik sekali, aku pasti memilih minat penciptaan, ikut organisasi, dari semester 1 membantu kakak angkatan syuting, ikut banyak job syuting atau dokumentasi, membangun banyak link dengan siapa saja, bergairah untuk syuting, but I'm not.

Dengan tujuanku di awal tersebut, tanpa sadar aku juga melangkah ke arah-arah yang menuju kesana. Pada akhirnya aku memiliki teman baru, tetapi hanya beberapa, dan bagiku itu cukup, apakah itu salah? Aku mendapatkan ilmu dan pengetahuan tentang televisi dan film, sedikit tentang seni tapi tidak penuh, apakah itu salah? Aku akhirnya bisa menulis lebih lancar karena aku akhirnya tahu bagaimana cara menyelesaikan satu cerita (berdasarkan pengalamanku menulis naskah), bagaimana cara membentuk karakter dengan benar, bagaimana membuat plot, bagaimana menciptakan konflik, semua yang berhubungan dengan naratif aku tekuni, tapi aku tidak benar-benar tertarik menekuni bidang lain, APAKAH itu bahkan salah?

Mungkin aku kuliah dengan tujuan yang berbeda dengan teman-temanku di kelas. Aku merasa begitu minder ketika aku melihat bahwa aku begitu pasif dibandingkan teman-temanku yang lain. Mereka ada job syuting, mereka syuting dan syuting, mereka membantu dokumentasi, mereka ingin bekerja di televisi, mereka ingin membuat lebih banyak karya, mereka suka membantu syuting, sedangkan aku TIDAK. Mereka begitu bergairah untuk belajar tentang sutradara, tentang pengambilan gambar, tentang cahaya, tapi satu-satunya yang menjadi perhatian pada setiap subjek untukku adalah tentang naratif karena itu berhubungan dengan Poin 1. Aku tidak bisa menggeser minatku ke bidang lain bagaimanapun aku berusaha, yang ada ketika aku melakukannya semuanya menjadi beban. Ketika teman-temanku mendekatkan diri mereka pada kakak angkatan, aku sama sekali tidak tertarik. Aku tidak tertarik berhubungan dengan siapapun yang tidak berkaitan dengan tujuan-tujuanku. Tapi kadang, tujuanku membuatku merasa bersalah, membuatku merasa salah karena semua orang menjudge bahwa aku salah kalau sekolah di jurusan televisi dan film tapi aku tidak memiliki niat bekerja di televisi atau bahkan membuat film. Aku merasa salah kepada orang-orang yang menekuni bidang ini, tapi tetap tidak merasa bersalah terhadap diriku sendiri. Mungkin aku sedikit tertarik bekerja di televisi dan menjadi penulis naskah, tapi tertarik dan niat itu berbeda, dan aku belum ada niat ke arah sana, atau katakanlah aku bahkan tidak berniat ke arah sana. Kalau ada yang mendengar ini, mungkin mereka akan mendebatku dan menyalahkanku.

Ketika aku ditanyai, aku sering berbohong dan berkata 'aku ingin menjadi penulis naskah', 'aku ingin bekerja di televisi'. Itu adalah jawaban yang paling aman, karena mereka tidak akan mendebatku, karena itu berkaitan dengan jurusanku. Padahal kalau mau jujur, jawabanku sebenarnya adalah 'aku ingin menjadi penulis novel yang terkenal, yang kesana-kemari untuk roadshow tentang buku-bukuku, yang tulisanku selalu dinantikan banyak orang, Ilana Tan membuatku bergairah untuk itu', dan 'aku ingin berbisnis, aku ingin bekerja di rumah, ingin menghasilkan pasif income, aku tidak tertarik bekerja di perusahaan karena itu akan menyita seluruh waktuku selama 8 jam yang seharusnya bisa kugunakan untuk produktif untuk diriku sendiri. Aku ingin menghabiskan waktuku lebih banyak untuk bersenang-senang dan menulis, teman-temanku adalah orang-orang yang menyukai tulisanku dan orang-orang di bidang ke penulisan'. Aku kuliah karena ini membantuku untuk lebih 'berilmu', aku membutuhkan titlenya, S1, dan aku menggunakan masa kuliahku untuk riset langsung agar membantuku lebih baik untuk menulis. Itu motif tersembunyiku yang mungkin hanya orang-orang terdekat yang mengetahuinya. Meskipun dengan menuliskannya begini ada kemungkinan lebih banyak orang yang tahu, tapi rasanya aku perlu menjelaskannya terperinci agar orang benar-benar mengerti tentang apa diriku. Bahwa kalaupun mereka merasa aku salah melakukan ini, aku tidak peduli. Orang-orang kelihatannya akan tetap menyalahkanku

Oya, temanku ada yang pernah bertanya 'kalau suka menulis kenapa nggak kuliah di sastra?'
Saat itu aku nggak bisa menjawabnya, tapi sekarang aku bisa menjawabnya. Well, adakah sekolah dengan jurusan fiksi? Sekolah yang hanya belajar tentang 'bercerita' bukan tentang bagaimana menulis dengan kalimat baku yang indah. Setauku sekolah sastra mengajarkan bagaimana cara menulis, merangkai kata, memahami bahasa Indonesia sebagai sebuah nilai estetika. Tapi setauku pula, disana tidak diajarkan bagaimana membangun konflik, plot, membangun karakter 3 Dimensi, padahal itulah yang kubutuhkan. Sekolah di jurusanku ini adalah yang paling dekat dengan hal tersebut, karena ada yang namanya 'Penulisan Naskah', di mata kuliah lain juga berkali-kali diajarkan tentang naratif. Jurusanku adalah tempat yang menyediakan wadah untuk kita berkembang di dunia fiksi, film dan novel tidak jauh beda, mereka sama-sama perlu riset, perlu perkembangan karakter, alur, dan konflik untuk bisa dinikmati, jadi itulah yang kupelajari. Melalui film, aku diajari bagaimana cara menilai sebuah film, bagaimana membentuk alasan agar aku bisa berkata bahwa sinetron sekarang tidak berbudaya dan berpendidikan, mengajarkan bagaimana aku membentuk argumen untuk berkata bahwa sinetron kita kalah dengan drama korea, drama turki, bahkan india. Karena semua itu sejalur dengan aku yang sedang belajar mengasah kemampuan menulis, hal tersebut menjadi penting dan menarik bagiku bahkan tanpa kusadari.

Jadi, ketika ada dosen atau mahasiswa yang berkata 'kalau kamu kuliah di TV tapi nggak niat untuk jadi bagian pertelevisian di Indonesia, buat apa?'

Aku mungkin tidak dapat menjawabnya dengan menjabarkan apa yang kujelaskan barusan, yaah... mungkin aku hanya akan berbohong lagi, dengan motif tersembunyi. Lagian aku bukan tipe orang yang suka berdebat, jadi buat apa susah-susah menjelaskan hal yang sebegitu panjangnya?

3. Aku baru menyadari bahwa aku tipe INFJ, berkali-kali aku ikut tes MBTI dan aku mendapati itu. Tesnya online sih, nggak tau akurat atau enggak, tapi karena aku selalu mendapat itu, aku anggap cukup tepat. Lagipula ketika aku membaca penjelasannya, entah kenapa aku sangat cocok dengan tipe ini. Hampir semuanya nyaris tepat. Kecuali di bagian pekerjaan tidak menuliskan : penulis atau businessman. Sedih sekali, semoga itu tidka meruntuhkan atau mengacaukan semangatku untuk berpindah cita-cita. Yang agak cocok untuk pekerjaan adalah psikolog, aku memang suka membaca jenis-jenis perasaan dan karakter, lalu satu lagi, artis (seniman), aku menyimpulkan maksudnya adalah orang-orang yang bekerja di bidang seni. Menulis itu seni dan aku sekolah di sekolah seni, jadi kuanggap cocok. Ah, tapi sejujurnya aku sangat menyukai hal-hal yang membuatku lebih mengenal diriku sendiri, dan itu tepat dengan tipe INFJ ini.

4. Terakhir, aku sedang merangkak, perlahan, tapi aku harap ini adalah sesuatu yang pasti untuk mencapati cita-citaku untuk bisa mendapatkan pasif income, seorang wirausaha atau businessman. Sungguh, ini tidak semudah yang aku bayangkan. Apalagi jika aku ingin bertahan di dunia online, aku harus promosi, harus bersaing harga, harus riset kemana-mana, harus berfikir, merencanakan, dan aku sudah berusaha sejak beberapa tahun yang lalu, tanpa hasil. Sudah menyerah berkali-kali, kemudian kembali membangun mindset bahwa tidak boleh ada kata 'menyerah' untuk berhasil, dan tetap gagal meskipun telah mempercayai itu, benar-benar menguras emosiku. Aku frustasi, stress, bingung, ingin menyerah, tapi... selalu kukatakan pada diriku lagi dan lagi. Jangan berhenti disini, bertahanlah, bertahanlah, jangan berhenti disini. Satu hal yang bisa kulakukan saat ini adalah bertahan. Aku tidak memikirkan masa depanku untuk saat ini, tetapi bertahan untuk hari ini, membangun kebiasaan, dan hanya itu yang bisa kulakukan, lalu percaya bahwa dari pengalamanku yang jatuh terus menerus ini, rugi terus menerus ini, bisa menjadi pembelajaran untuk kedepan menjadi lebih baik. Dan hanya berharap bahwa hal yang baik itu bisa membantuku untuk sukses. Aku cuma punya waktu 2-3 tahun, jadi memang, aku belum bisa menyerah sekarang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

just give me your best comment :)